ABOUT ALIENDA SOPHIA

Manda (Mama Alienda) adalah seorang Mama dari 3 orang anak, 2 putri cantik dan seorang putra tampan. Putri pertama, Nayyara lahir tahun 2015, dan Mysha lahir tahun 2017, lalu El yang lahir di 2025. Manda lulusan desain interior yang saat ini fokus bekerja dari dalam rumah. Manda kini menikmati kesehariannya, setelah sebelumnya memutuskan berhenti bekerja di ranah publik saat lahir Nayyara di tahun 2015.  Pemilik golongan darah langka (O rhesus negatif-) ini, sangat menyukai hal-hal yang indah dipandang. Kenal lebih dekat si pembelajar visual yang selalu bersemangat menceritakan gempita warna warni yang terekam dalam kepalanya.
Read More
Categories

Hai hai TemaNda!

Jujur saja, dulu rasanya tidak pernah membayangkan akan menulis tentang dunia content writer. Menulis, buatku, hanyalah kegiatan sampingan. Kadang nulis caption panjang, kadang curhat di blog, kadang cuma menuangkan isi kepala biar terasa lebih ringan. Tidak pernah terpikir kalau aktivitas ini bisa menjadi sesuatu yang lebih serius, apalagi disebut sebagai profesi.

Sampai suatu hari, mulai terasa sering mendengar istilah content writer. Awalnya terdengar keren, tapi juga masih terasa jauh. Di kepala, content writer adalah orang-orang yang tulisannya rapi, penuh istilah, paham SEO, dan seolah tahu semua aturan menulis yang benar. Sementara Manda? Masih sering ragu dengan tulisan sendiri. Takut kepanjangan, takut kependekan, takut nggak penting, takut nggak ada yang baca, takut salah.

Dari situ jadi sadar, mungkin justru banyak orang yang posisinya sama, yaitu penasaran, tertarik, tapi juga minder. Manda nyusun ini bukan sebagai panduan ahli ya. Ini lebih seperti catatan belajar seorang pemula yang masih belajar memahami dunia content writer, pelan-pelan, sambil banyak bertanya dan banyak salah. Tapi yang pasti, mulai berkurang takutnya.

Hai hai TemaNda!

Bagaimana kabar kalian hari ini? Semoga selalu ada satu sudut kecil di hati yang baik-baik saja. Karena jujur, akhir-akhir ini Manda merasa hidup berjalan cepat sekali. Rasanya baru saja menutup mata, tahu-tahu hari sudah menuntut banyak hal lagi. Belum sempat benar-benar menarik napas, kita sudah kembali diminta siap.

Ada fase di hidup kita sebagai ibu, ketika capek bukan lagi soal kurang tidur semalam. Capeknya lebih dalam. Capek karena terlalu sering menunda diri sendiri, terlalu sering bilang “nanti”, dan terlalu sering merasa harus bisa semuanya. Kita bangun pagi dengan tubuh yang bergerak otomatis, sementara pikiran sudah lebih dulu lelah.

Sering kali kita tidak sadar, bahwa yang paling jarang kita perhatikan justru diri kita sendiri. Kita cek jadwal anak, cek pekerjaan, cek kebutuhan rumah, tapi lupa mengecek perasaan. Apakah hari ini hati kita baik-baik saja? Atau hanya sedang bertahan?

Di media sosial, keseimbangan kerja dan keluarga sering digambarkan begitu rapi. Ibu produktif, rumah tertata, anak bahagia, pekerjaan jalan. Seolah semua bisa dicapai bersamaan asal kita cukup pintar mengatur waktu. Padahal kenyataannya, hidup tidak selalu ramah pada jadwal.

Ada hari-hari ketika kita sudah berusaha sebaik mungkin, tapi tetap merasa kurang. Kurang hadir, kurang sabar, kurang maksimal. Dan perasaan itulah yang pelan-pelan menggerus kita, kalau tidak diakui.

Tulisan ini Manda buat untuk kontemplasi dan usaha detoks diri karena mulai terasa overload. Tulisan ini Manda umpamakan sebagai ruang kecil untuk kita duduk sebentar, saling mengangguk, dan berkata dalam hati, oh, ternyata aku tidak sendirian.

 Hai hai TemaNda

Belakangan ini rasanya kata liburan nggak lagi soal rebahan manis di hotel atau foto cantik buat media sosial. Buat Manda, liburan sekarang lebih sering jadi tentang pengalaman, kenangan, dan cerita yang nantinya akan terus diingat anak-anak. Terlebih setelah punya tiga anak, definisi liburan pun ikut berubah. Bukan lagi soal nyaman atau mewah, tapi tentang kebersamaan dan keberanian mencoba hal baru, meski penuh tantangan.

Pernahkah kalian mencoba kamping di pinggir pantai? 

Buat Manda ini sebuah hal yang sangat baru, dengan kondisi beranak tiga tentunya, kalau kamping masa sekolah kan beda.

Kamping di pinggir pantai sendiri merupakan salah satu bentuk wisata alam yang menawarkan pengalaman unik dan berkesan. Berbeda dengan menginap di hotel atau penginapan, kamping memberikan kesempatan bagi seseorang untuk hidup lebih dekat dengan alam, merasakan suasana yang alami, serta melepaskan diri dari rutinitas dan hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari. Pantai, dengan keindahan laut, pasir, dan langit terbuka, menjadi lokasi pilihan bagi orang yang ingin berkemah sambil menikmati sensasi yang cukup menantang.

Hai hai TemaNda

Punya rumah pertama itu rasanya campur aduk. Antara senang, haru, sekaligus deg-degan. Apalagi saat masuk ke fase serah terima rumah, di mana kita resmi menerima bangunan yang selama ini cuma kita lihat dari brosur atau rumah contoh. Di tahap ini, kita bukan cuma datang, terima kunci, lalu pulang dengan senyum lebar. Ada banyak hal penting yang perlu diperhatikan supaya rumah pertama benar-benar siap ditinggali tanpa masalah di kemudian hari.

Biar nggak bingung dan nggak ada yang terlewat, yuk kita bahas satu per satu tips serah terima rumah pertama, lengkap sampai urusan pajak seperti cara menghitung PBB, plus sedikit gambaran soal kawasan hunian yang nyaman dan layak dipertimbangkan.

Hai hai TemaNda!

Berangkat dari pengalaman belajar dan bekerja di dunia desain interior, Manda memahami satu hal, bahwa ruang kerja yang nyaman tidak hanya soal fungsi, tapi juga soal rasa. Tentang bagaimana sebuah ruang bisa membantu kita lebih fokus, merasa tenang, dan betah berlama-lama di dalamnya.

Dalam beberapa proyek desain, baik untuk klien maupun saat menata ruang pribadi, workstation sering kali jadi tantangan tersendiri. CPU besar yang memakan tempat, kabel berantakan, dan tampilan perangkat yang terasa “berisik” secara visual sering kali justru merusak konsep ruang yang sudah dirancang rapi.

Padahal, di era kerja hybrid seperti sekarang, meja kerja bukan lagi sudut tersembunyi. Ia sering menjadi pusat aktivitas untuk bekerja, membuat konten hingga meeting online, hingga mengurus berbagai kebutuhan rumah tangga. Apalagi kondisi dua anak Manda yang sekolah Blended Learning, dan lebih banyak kelas online, bila tidak kondusif lokasi belajar, jadi sulit untuk bisa fokus. Di titik inilah Manda mulai semakin menyadari workstation bukan sekadar alat kerja, tapi juga elemen interior yang cukup krusial.

Dari situ, Manda mulai melihat bahwa perangkat kerja ideal adalah yang mampu mendukung aktivitas sekaligus menyatu dengan ruang. Kesan dan fungsi tersebut Manda rasakan ada pada ASUS V400 AiO Series.

 Hai hai TemaNda

Ada fase-fase dalam hidup sebagai orang tua yang kerap kali membuat hati Manda menghangat. Bukan karena sedih, bukan juga karena takut berlebihan. Tapi lebih ke perasaan campur aduk antara bahagia, terharu, dan sedikit rasa gak percaya. Salah satunya adalah ketika akhirnya Manda menemani anak sulung melewati pengalaman sosial yang rasanya sederhana, tapi ternyata punya makna besar.

Sesekali hal seperti ini membuat Manda berpikir sudah jadi orang tua seperti apa sejauh ini. Apakah sudah memilih reaksi-reaksi terbaik setiap menghadapi anak anak kita? Apa sudah sesuai dengan tulisan Kak Dian Restu Agustina tentang karakter pendidik yang sukses? Setiap ada hal baru, saat itu juga Manda mengevaluasi diri.

Contohnya hari itu, Nayyara anak sulung Manda yang usianya baru 10 tahun punya agenda spesial. Untuk pertama kalinya, dia janjian nonton bareng teman-teman sekelasnya. Bukan rame-rame satu kelas, tapi cukup empat orang saja. Perempuan semua. Ada Hagia, Luna, dan Rea. Mereka sepakat nonton Zootopia 2 di CGV Paskal 23 Bandung.

Buat sebagian orang tua, mungkin ini hal biasa. Tapi buat Manda, ini adalah momen transisi kecil yang layak diabadikan dalam tulisan. Karena Nayyara bersekolah daring dengan metode blended learning di Sekolah Murid Merdeka. Dan berarti frekuensi ketemu langsung dengan teman sekelas memang gak sesering sekolah konvensional. Jadi setiap kesempatan bertemu tatap muka rasanya jadi lebih berharga.

 Hai hai TemaNda !

Buat pecinta drama, pastinya banyak pilihan drama yang bisa jadi genre favorit kita. Ada drama yang bikin kita jatuh cinta sama tokohnya. Ada drama yang bikin kita geregetan. Dan ada drama seperti Dear X, yang sejak awal udah terasa menghisap masuk ke lorong gelap yang genrenya bukan tipikal drama Korea mainstream. Sangat jelas ini bukan tipe tontonan yang manis atau healing, Dear X justru menyuguhkan deretan aktris yang sedang populer dengan lapisan psikologis yang rumit, penuh manipulasi, dan nyaris tidak memberi ruang bagi kita untuk bernapas tenang.

Bukan berlebihan kalau banyak orang menyebut drama ini sebagai salah satu proyek paling berani dalam genre melodrama psikologis beberapa tahun terakhir. Mungkin gak cuma Manda yang sekarang melihat Kim Yoo-jung jadi ada kesan ngeri ngeri sedap, karena teringat sosok Baek Ah-jin.

Dan kali ini Manda cuma akan bahas bagian luar dramanya, tanpa banyak Spoiler Ending. Seperti biasa Manda akan spill tipis untuk TemaNda yang butuh ulasan Kdrama ataupun Ulasan Film Korea dengan pendekatan yang lebih psikologis dan gak terlalu bahas luarannya.

© Alienda Sophia · THEME BY WATDESIGNEXPRESS