Hari Sabtu 7 Maret 2026 kemarin mungkin sama halnya dengan hari biasa. Rutinitas biasa. Sampai menjelang maghrib Pavi ngechat anak-anak untuk ngasih tau ke Manda kalau Vidi Aldiano berpulang.
Untuk Manda ini adalah sebuah kabar duka yang perlahan datang tapi langsung terasa kena di hati. Kita mungkin gak mengenal orangnya secara pribadi. Gak pernah bertemu. Gak pernah ngobrol. Tapi kehadirannya selama ini terasa dekat. Cerita hidup yang ia bagikan membuat kita merasa lebih dekat lagi. Perjuangan ia bertahan dengan penyakit kanker membuat kisah inspiratif yang mungkin akan sulit terlupakan. Vidi seperti teman yang sering main bareng, padahal mungkin kita cuma tau dari ceritanya, tapi berasa dekat dan relate.
Jadi ya begitu rasanya ketika kabar kepergian Vidi Aldiano aku dengar langsung. Rasanya seperti kehilangan seseorang yang selama ini diam diam ikut menemani hari hari kita. Walaupun di sisi lain ada rasa lega karena kini pastinya Vidi udah gak sakit lagi.
Selain mengenal Vidi tentu dari lagu lagunya di masa kuliah, kita tau Vidi sebagai entertainer yang baik. Suaranya yang khas sudah lama menemani perjalanan musik Indonesia. Tapi mungkin ada yang sama, belakangan Manda justru lebih sering lihat Vidi bukan sedang di atas panggung, melainkan dari layar PC ataupun HP di rumah. Banyaknya saat ia mulai jadi duta persahabatan. Apa lagi saat dia mulai sering muncul di Podhub bersama Deddy Corbuzier.
Podcast itu entah kenapa sering sekali jadi teman Manda saat mencuci dan menyetrika. Rutinitas yang mungkin sederhana, tapi bagi ibu ibu kadang terasa panjang juga. Menyetrika baju pergi, merapikan pakaian pergi, menumpuk pakaian rumah. Kadang kalau dilakukan dalam diam, terasanya lama sekali.
Di situlah Podhub mulai sering jadi teman yang menyenangkan, tentunya selain Drakor dan yang lebih serius lainnya.



